Entri Populer

Showing posts with label Tata Cara. Show all posts
Showing posts with label Tata Cara. Show all posts

Friday, 30 October 2015

SYUKUR ,Cara NIKMAT Menambah NIKMAT








Syukur mencakup tiga sisi


  • :a. Syukur dengan hati, 

yaitu kepuasan batin atas anugerah.


  • b. Syukur dengan lidah, 

dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya.


  • c. Syukur dengan perbuatan, 

dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian banyak aspek. Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya.

SYUKUR DENGAN HATI








Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.

Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya.

Qarun yang mengingkari keberhasilannya atas bantuan Ilahi, dan menegaskan bahwa itu diperolehnya semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya (Baca kisahnya dalam surat Al-Qashash (28): 76-82).

Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa malapetaka pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu, tetapi karena terbayang olehnya bahwa yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat terjadi.

Dari sini syukur –seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip di atas– diartikan oleh orang yang bersyukur dengan “untung” (merasa lega, karena yang dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi).

Dari kesadaran tentang makna-makna di atas, seseorang akan tersungkur sujud untuk menyatakan perasaan syukurnya kepada Allah.Sujud syukur adalah perwujudan dari kesyukuran dengan hati, yang dilakukan saat hati dan pikiran menyadari betapa besar nikmat yang dianugerahkan Allah. Bahkan sujud syukur dapat dilakukan saat melihat penderitaan orang lain dengan membandingkan keadaannya dengan keadaan orang yang sujud. (Tentu saja sujud tersebut tidak dilakukan di hadapan si penderita itu).

Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua anggota sujud di lantai yakni dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari kaki –seperti melakukan sujud dalam shalat. Hanya saja sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu bukan bagian dan shalat, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah walaupun dilakukan tanpa berwudhu, karena sujud dapat dilakukan sewaktu-waktu dan secara spontanitas. Namun tentunya akan sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudhu.

 SYUKUR DENGAN LIDAH









Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya.

Al-Quran, seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi “al-hamdulillah.”Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain.

Kata “al” pada “al-hamdulillah” oleh pakar-pakar bahasa disebut allil-istighraq, yakni mengandung arti “keseluruhan”. Sehingga kata “al-hamdu” yang ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.Jika kita mengembalikan segala puji kepada Allah, maka itu berarti pada saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah SWT, sebab kecantikan dan kebaikan itu bersumber dari Allah.

Di sisi lain kalau pada akhirnya ada perbuatan atau ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai “kurang baik”, maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolak ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangannya sehingga penilaiannya menjadi demikian.

Walhasil, syukur dengan lidah adalah “al- hamdulillah” (segala puji bagi Allah).

SYUKUR DENGAN PERBUATAN










Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga Allah berpesan,

“Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur!” (QS. Saba [34]:13).

Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya . Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah.

Ambillah sebagai contoh lautan yang diciptakan oleh Allah SWT. Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan penciptaannya melalui firman-Nya:

“Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untuk kamu) agar kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan (agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah disebut) semoga kamu bersyukur” (QS. An-Nahl [16]: 14).

Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan laut, sehingga mensyukuri nikmat laut, menuntut dari yang bersyukur untuk mencari ikan-ikannya, mutiara dan hiasan yang lain, serta menuntut pula untuk menciptakan kapal-kapal yang dapat mengarunginya, bahkan aneka pemanfaatan yang dicakup oleh kalimat “mencari karunia-Nya”.

Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah,

“Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)” (QS.Ibrahim [14]: 7)

Betapa anugerah Tuhan tidak akan bertambah, kalau setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap hembusan angin yang bertiup di udara, setiap tetes hujan yang tercurah dan langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?

Di sisi lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa

“Kalau kamu kufur(tidak mensyukuri nikmat atau menutupinya tidak menampakkan nikmatnya yang masih terpendam di perut bumi, di dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.”

Suatu hal yang menarik untuk disimak dari redaksi ayat ini adalah kesyukuran dihadapkan dengan janji yang pasti lagi tegas dan bersumber dari-Nya langsung (QS. Ibrahim [14): 7)

Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa; itu pun tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan menimpa yang tidak bersyukur (QS. Ibrahim [14]: 7).

Siksa dimaksud antara lain adalah rasa lapar, cemas, dan takut.

“Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidakbersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan” (QS. An-Nahl [16]: 112).

Pengalaman pahit yang dilukiskan Allah ini, telah terjadi terhadap sekian banyak masyarakat bangsa, antara lain, kaum Saba –satu suku bangsa yang hidup di Yaman dan yang pernah dipimpin oleh seorang Ratu yang amat bijaksana, yaitu Ratu Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka, yakni satu masyarakat yang terjalin persatuan dan kesatuannya, melimpah ruah rezekinya dan subur tanahairnya.

Negeri merekalah yang dilukiskan oleh Al-Quran dengan baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Mereka pulalah yang diperintah dalam ayat-ayat tersebut untuk bersyukur, tetapi mereka berpaling dan enggan sehingga akhirnya mereka berserak-serakkan, tanahnya berubah menjadi gersang, komunikasi dan transportasi antar-kota-kotanya yang tadinya lancar menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah bibir orang saja.

Demikian uraian Al-Quran. Dalam konteks keadaan mereka, Allah berfirman,

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada orang-orang yang kufur(QS. Saba [34]: 17).

Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer:

“Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (QS. Ibrahim [14]: 7).


















Saturday, 24 October 2015

Taubat Nasuha









PENGERTIAN TAUBAT


Taubat atau dalam Bahasa Arabnya juga تَوْبَة (taubah) berasal dari perkataan تَوَب  َ(tawaba) yang dari segi bahasa bermaksud kembali.

Seseorang itu dikatakan تاب َ(taaba– telah bertaubat) sekiranya dia telah kembali dari melakukan dosa atau telah meninggalkan dosa itu.Adapun dari sudut istilah, apabila dikatakan seseorang itu telah bertaubat maksudnya dia telah kembali dari melakukan maksiat atau dosa terhadap Allah untuk dia mentaati Allah.

Jadi jelas kaitan di antara maksud taubat menurut bahasa dan juga istilah Syaraknya.

PERINTAH BERTAUBAT


Adapun tentang bagaimana perintah Syarak kepada kita sebagai manusia untuk bertaubat, hal ini memang jelas dan banyak disebutkan dalam nas-nas Al-Quran dan juga Sunnah. Antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman semoga kamu berjaya.”(Surah Al-Nur, 24: 31)

Dalam Surah Al-Zumar ayat ke-53 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“

Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas ke atas diri mereka; janganlah kamu berputus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa-dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.”(Surah Al-Zumar: 53)

Dalam ayat ini Allah memberi peringatan kepada hamba-hambaNya yang melampaui batas ke atas diri mereka; melampaui batas iaitu dengan melakukan dosa-dosa dan maksiat.

Juga firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat ke-135

,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“

Dan mereka (orang-orang beriman) apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka segera ingat akan Allah lalu meminta keampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampunkan dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus menerus dalam perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui (kesalahan dan akibat dari dosa itu).”(Surah Ali Imran: 135)

Jika dalam ayat sebelum ini Allah memilih perkataan mereka yang ‘melampaui batas’, dalam ayat ini pula Allah mengatakan mereka yang telah ‘menzalimi diri mereka’.

Mungkin kita tidak perasan; apakah maksud orang yang menzalimi diri mereka? Orang yang menzalimi diri mereka adalah orang yang melakukan dosa dan maksiat. Bagaimana dia menzalimi dirinya?Dia menzalimi diri sendiri kadangkala tanpa kita sangka. Barangkali ketika melakukan perbuatan maksiat itu dia bersuka ria dan bergembera dengannya. Tetapi realitinya dia menzalimi diri sendiri kerana perbuatan itu menambahkan dosanya dan paling tidaknya di Akhirat nanti dia mendapat balasan buruk iaitu Api Neraka.

Perbuatannya akhirnya membawa mudarat dan binasa kepada dirinya. Itu yang dimaksudkan menzalimi diri.

Tiga ayat ini sudah memadai di mana faedah yang dapat diambil dari ketiga-tiga ayat ini cukup banyak.

Antara faedah yang dapat kita sebutkan;


  • 1. Kewajipan taubat. 


Seperti mana firman Allah
,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا
(dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah). 

para Ulama menjelaskan bahawa sekiranya ada perintah dari Syarak sama ada dari Al-Quran atau Hadis, bererti hukumnya adalah wajib.

Jadi apabila Allah mengatakan bertaubatlah kamu sekalian, itu merupakan satu perintah dan perintah membawa makna wajib. Maka hukum bertaubat adalah wajib.


  • 2. Taubat menjadi kunci kejayaan. 


Seperti mana Allah berfirman
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
َ(semoga kamu berjaya). 

Jadi sesiapa yang ingin tahu apa kunci kejayaan untuk hidupnya di dunia apalagi di Akhirat, jawapannya antara lain adalah dengan bertaubat.


  • 3. Jangan berputus harapan dari rahmat Allah 


walau sebanyak dan sebesar mana pun dosa yang pernah dilakukan. Walau apapun maksiat yang kita lakukan, dari sekecil-kecilnya hinggalah sebesar-besarnya, baik perkara-perkara maksiat, bidaah, khurafat yang mungkin selama ini kita amalkan dan kita percaya, jangan berputus harapan bahawa pintu taubat terus terbuka.

Bahkan walaupun perkara-perkara kufur atau syirik sekalipun, misalnya orang kafir yang menyembah selain Allah, mensyirikkan Allah, tentu sahaja dia juga boleh bertaubat.

Ini kerana Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوب
َ جَمِيعًا
(Sesungguhnya Allah mengampunkan kesemua jenis dosa-dosa). 

Tidak ada dosa yang dikecualikan dari pengampunan Allah. Jadi janganlah berputus harapan dari mendapat keampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


  • 4. Sifat orang beriman adalah sentiasa mengawasi dirinya, memerhatikan tindak tanduknya, atau secara ringkasnya sentiasa bermuhasabah. 


Firman Allah, maksudnya: 

“Dan mereka yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka, mereka ingat kepada Allah.” 

Ingat kepada Allah maknanya sentiasa muhasabah.Dia tidak sibuk tentang orang lain, dia lebih pentingkan dirinya kerana dia bertanggung jawab ke atas dirinya dulu sebelum orang lain. Dia sentiasa muhasabah kerana dia mengetahui, yakin dan percaya bahawa sehebat mana pun dirinya pasti dia ada kesalahan dan kesilapan

seperti mana disebut dalam hadis Nabisallallahu ‘alaihi wasallam

,كُلُّ بَنِي آدَم خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“

Setiap anak Adam melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.”(Hasan. Riwayat Ahmad)

Ini adalah sifat orang yang beriman kerana orang yang sesat lagi menyimpang sifatnya terbalik sama sekali. Kita perhatikan apa sifat orang menyimpang, semoga kita tidak tergolong dalam orang yang mempunyai sifat ini.

Firman Allah dalam Surah Al-Kahf ayat ke-103 hingga 104

,قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا“

Mahukah kalian kami ceritakan tentang mereka yang telah rugi di dalam amal perbuatan mereka? Iaitu mereka yang telah sesat lagi menyimpang dalam usaha mereka semasa hidup mereka di dunia sedang mereka menyangka apa yang mereka lakukan itu adalah baik.”(Surah Al-Kahfi. 18: 103-104)

Ini sifat orang-orang sesat. Adakah orang sesat lagi menyimpang mengaku bahawa mereka sesat? Bahkan terbalik, semua orang yang sesat lagi menyimpang mengatakan bahawa apa yang mereka buat adalah betul. Bahkan mereka mengatakan apa yang mereka buat itu baik. Ini biasa kita dengar.Sedangkan realitinya ia tidak baik kerana ia menyalahi Syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah sifat orang yang tidak sedar diri, tidak sedar akan kesalahan dan dosa yang mereka lakukan. Kalau tidak sedar, adakah harapan untuk dia bertaubat? Jauh sekali kerana dia merasakan apa yang dia buat itu betul.

Inilah yang dapat kita lihat pada pelaku bidaah secara khasnya. Mereka menyangka apa yang mereka lakukan adalah baik-baik belaka.


  • 5. Orang yang beriman antara sifatnya apabila melakukan salah silap, dia akan cepat ingat kepada Allah dan bertaubat kepada Allah. 


Ini kerana orang yang beriman mengetahui bahawa salah silap yang dilakukan itu perlu kepada taubat dan taubat yang dilakukan itu tidak lain dan tidak bukan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia hanya bertaubat kepada Allah dan sama sekali dia tidak akan kembali kepada selain Allah.Dia tidak akan meminta keampunan daripada mana-mana Syaikh atau wali, dia tidak akan meminta keampunan daripada mana-mana orang yang telah mati, nenek moyang atau sesiapa. Dia tidak akan mendatangi mana-mana perkuburan untuk meminta keampunan.

Jika orang Kristian Katolik ada confession,di mana seseorang itu masuk ke dalam sebuah bilik, paderi di sebelah, dia menceritakan dosanya dan paderi itu pun mendengar, kemudian dosanya pun diampunkan, tetapi tidak ada praktik sebegitu dalam Islam. Tidak ada mana-mana Ustaz, ulama dan sebagainya yang dapat mengampunkan dosa sesiapa kerana itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.Bahkan Nabi atau Rasul sekalipun tidak akan mempunyai kuasa untuk mengampunkan dosa sesiapa pun.

Kita sedia maklum bahawa Nabi sendiri tidak dapat menyelamatkan bapa saudaranya.

  • 6. Orang yang beriman tidak akan terus menerus dalam melakukan dosa dan salah silap. 


Sebaliknya dia akan cepat-cepat kembali ke pangkal jalan apabila menyedari kesalahannya. Dia tidak akan terus melakukan kesalahan itu; baik maksiat, bid’ah, khurafat, apatah lagi kufur dan syirik. Sebaliknya dia cepat-cepat meninggalkannya, berhenti daripadanya dan berlepas diri daripadanya.

Maka perlu kita ingat, kalau kita sudah sedar sesuatu kesalahan di mana sebelum itu mungkin kita sangka betul, kita kena cepat berlepas diri daripadanya.

Contohnya muzik, bahkan ada satu istilah iaitu muzik Islam.Kita telah tekankan banyak kali bahawa tidak ada istilah muzik Islam seperti mana tidak ada istilah syaitan Islam.

Muzik adalah alunan Syaitan, seperti mana Al-Quran adalah Kalamullah. Tidak boleh disamakan antara Al-Quran dengan muzik. Al-Quran itu daripada Allah, muzik itu daripada Syaitan. Al-Quran itu pahala, muzik itu dosa. Tidak ada istilah dosa Islam, tidak ada istilah Syaitan Islam, maka tidak ada istilah muzik Islam.

Perkara-perkara bidaah; kalau sebelum ini kita jahil, tidak tahu, tetapi pada hari ini kita sudah tahu, contohnya yasinan, tahlilan, talqin, marhaban, barzanji, dan macam-macam lagi perkara bidaah, kalau kita sudah sedar bahawa ini semua tidak boleh dan bukan datangnya dari ajaran Islam, tanggung jawab kita adalah jangan kita main-main lagi. Jangan kita kata “aku duduk je” dalam majlis bidaah dan seumpamanya.

Siapa yang memberi keamanan kepada engkau bahawa rumah itu tidak akan runtuh ke atas engkau, sedang engkau berada di majlis yang dimurkai oleh Allah. Majlis-majlis seperti ini sudah tentu tidak diredhai oleh Allah. Maka kalau dia sudah tahu, dia kena cepat-cepat berhenti dan berlepas diri daripadanya.

CARA BERTAUBAT DAN BERLINDUNG DARI DOSA



  • 1.Jika dosa yang dilakukan itu adalah akibat dari kejahilan dan kealpaan, kerana tidak tahu bahawa ianya dosa, atau sebelum itu dia menyangka ianya baik, maka cara bertaubat daripadanya adalah dengan menuntut ilmu. 


Adapun sekiranya dosa yang dilakukan itu adalah kerana tertewas dengan nafsu syahwat atau kerana terikut dengan hawa nafsu, cara bertaubatnya adalah dengan bersabar dan mengharapkan pahala dari kesabaran itu.

Lihat bagaimana Syarak memelihara seseorang itu dari terjebak dalam kancah dosa atau maksiat. Syarak antara lain menuntut supaya seorang itu berwuduk, ataupun solat, ataupun berpuasa. Seperti mana dalam hadis di mana seorang itu kalau hendak menghindari dirinya dari bertindak atas kemarahan yang tentunya akan membawa kepada dosa, Syarak menuntut supaya dia berwuduk.Solat juga mampu mengekang seseorang itu dari terjebak kepada dosa.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ“

Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan mengerjakan solat.”(Surah Al-Baqarah, 2: 45)

Begitu juga dalam ayat yang lain, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“

Sesungguhnya solat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”(Surah Al-Ankabut: 45)

Ini semua untuk mengelakkan kita dari terjebak ke dalam kancah dosa dan juga maksiat.


  • 2. Berlindung dengan Allah. 


Ini kerana barangsiapa yang mencari perlindungan dengan Allah di mana dia kembali kepada Allah, tentu sahaja Allah akan membantu dan menolongnya untuk menewaskan dua musuh ketatnya yang sentiasa berdamping dengannya untuk memusnahkan dirinya; iaitu nafsu dan juga Syaitan.

Seperti mana firman Allah

,إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ“

Kerana sesungguhnya nafsu itu sentiasa mendorong kepada kejahatan.”(Surah Yusuf, 12: 53)

Seperti kita sedia maklum, syaitan juga adalah musuh ketat manusia. Jadi bagaimana kita hendak berlindung daripada dua musuh ini adalah dengan kembali kepada Allah seperti mana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat ke-101

,وَمَن يَعْتَصِم بِاللهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ“

Dan barangsiapa yang berlindung dengan Allah, sungguh dia diberi petunjuk kejalan yang benar.”(Surah Ali Imran, 3: 101)

  • 3. Perlu ada perasaan takut bahawa akan dipercepatkan kepadanya balasan perbuatan dosanya itu di dunia; 



iaitu dia mungkin diharamkan dari memperoleh rezeki kerana dosa yang dilakukan, atau ditimpa kemiskinan dan penyakit sekiranya dia terus menerus melakukan perbuatan dosanya itu.


  • 4. Memperelokkan makan minumnya, 


iaitu hanya menjamah makan dan minuman yang halal. Ini sangat penting dan Alhamdulillah masyarakat kita memberi kepentingan pada perkara ini, mereka sentiasa memastikan adanya tanda halal pada makanan. Namun ini tidak menghalang kita untuk terus memperkemaskan dan menjaga perkara ini.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menyebut

,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“

Seorang lelaki yang dalam perjalanan jauh (bermusafir) sehingga rambutnya menjadi kusut dan badannya berdebu (tertekan dan kesusahan), dia mengangkat kedua tangannya ke langit lalu berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan rezekinya dari sumber yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?”(Riwayat Muslim)

Ini doa secara umumnya, maka begitu jugalah dalam kita hendak bertaubat. Bagaimana kita hendak meminta supaya Allah menerima taubat kita dan mengampuni dosa kita kalau kita terus menerus bergelumang dalam dosa, menjamah makanan dan minuman yang haram, pakaian haram, dan sumber rezeki juga haram.


  • 5. Menjaga dengan siapa kita berkawan dan bersahabat. 


Kita perlu beri perhatian pada perkara ini kerana saya melihat adanya kelalaian dalam  perkara ini secara khasnya. Perlunya kita menjauhkan diri kita dari teman-teman yang buruk. Ini kerana banyak keadaan di mana teman-teman kita inilah yang membawa kita kepada dosa atau membuat kita terus di dalam dosa.

Akibat tersalah memilih kawan, akibat duduk dengan kumpulan yang tidak baik membuatkan kita terjebak dengan dosa dan sehingga kita terus menerus di dalam dosa kerana kita mengekalkan kawan-kawan yang tidak baik ini.

Ini seperti mana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“

Permisalan teman yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang besi. Adapun penjual minyak wangi, sama ada dia akan menghadiahkan kamu wangiannya, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang besi, sama ada dia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang busuk.”(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Maka perhatikan teman kita, adakah dia seperti penjual minyak wangi atau adakah dia seperti tukang besi.

Penting bagi kita menjaga dengan siapa kita bergaul. Adakah kita bergaul dengan orang-orang yang baik, orang saleh, orang sunnah, atau adakah kita bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, orang-orang yang buruk, orang-orang yang melakukan maksiat, atau orang-orang yangmelakukan bid’ah, atau Khawarij.

Dari hadist yang disebutkan, dapat dibuat satu kesimpulan bahawa seseorang itu mudah terpengaruh dengan persekitarannya. Sekiranya persekitarannya baik, dia akan mendapat faedahnya. Sepertimana kalau persekitarannya buruk, kawan-kawannya buruk, kampung halamannya buruk, kawasan tempat tinggalnya buruk, tidak ada masjid contohnya – duka citanya ini banyak berlaku di kawasan orang kaya-kaya.

Rumah besar-besar, kawasannya luas, tetapi masjidnya tidak ada

.وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً“

Dan mereka menyangka bahawa mereka sedang hidup dengan sebaik-baiknya.”(Surah Al-Kahfi, 18: 104)

Syarak menitik beratkan persekitaran. Oleh kerana itu, Syarak turut menegah kita meniru orang kafir,

seperti mana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, sabda Nabisallallahu ‘alaihi wasallam

,وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“

Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia tergolong daripada mereka.”(Sahih. Riwayat Ahmad)

Maka kalau seseorang itu menyerupai orang kafir, Rasulullah berkata dia tergolong daripada kaum itu.Na’uzubillah.

Di situ terdapat tegahan dan larangan dari kita menyerupai orang kafir sama ada dari segi tingkah laku, tatacara, bahkan pakaian sekalipun kita perlu berhati-hati.

Barangkali ada yang bertanya apa masalahnya? Kita katakan, ia bermula secara zahir, tetapi akan memberi kesan kepada hati.

Barangkali pada mulanya kita menyerupai mereka dari segi tingkah laku, contohnya orang kafir apabila bertemu sesama mereka mengucapkan“Hi! Hello!”kita pun meniru mereka, melupakan memberi salam dan mengucapkan Hi, Hello, Good Morning,Selamat Pagi dan sebagainya menyerupai amalan orang kafir. Ia bermula dengan perkara sekecil itu tetapi akhirnya akan terkesan dalam jiwa.

Pada mulanya dia menyerupai orang kafir secara zahir, tetapi percayalah, kalau dia tidak bertaubat daripadanya, lambat laun dia akan menyerupai orang kafir secara batin. Dia menyerupai orang kafir seperti mana orang kafir.

Begitu juga Syarak melarang orang Islam untuk tinggal di negara Kafir. Hal ini seperti mana hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan

,أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ مُقِيمٍ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ“

Aku berlepas diri daripada semua orang Islam yang tinggal bersama-sama dengan orang-orang musyrikin.”(Sahih. Riwayat Abu Daud dan Tirmizi)

Hadis ini sangat jelas, tidak ada ruang untuk takwil. Ini sangat penting dan sangat bahaya kerana dukacitanya kita melihat ramai yang mengambil mudah hal ini.

Berapa ramai orang Islam tinggal di negara orang kafir, dengan gembiranya lagi.

Kenapa dilarang umat Islam tinggal di negara kafir?
Sebabnya sama; kerana persekitaran akan memberi kesan kepada seseorang itu.Maka akhirnya kita melihat rata-rata orang Islam yang tinggal di negara orang kafir adakah masya Allah mereka menjadi orang-orang saleh belaka?

Jangan kita lihat pada minoriti. Dari persoalan kita, apa jadi kepada majoriti orang Islam yang tinggal di negara orang kafir? Adakah janggutnya panjang, memakai jubah, kopiah, wanitanya pula memakai purdah, jubah, anak-anaknya pula menghafal Al-Quran, adakah begitu?Jangan kita tipu diri kita. Majoriti mereka terbalik.

Sekali pandang nampak sama, si Ali sama dengan si John. Kita tidak tahu hendak bezakan. Kita hendak beri salam pun kita tidak tahu orang itu Islam atau bukan Islam. Ini realitinya.Begitu juga Syarak menegah daripada duduk bersama dengan orang-orang yang sesat lagi menyimpang.

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah Al-An’aam ayat ke-68. Allah berfirman

,فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ“

Dan janganlah kamu terus duduk bersama kaum yang zalim setelah datang kepadamu peringatan.”(Surah Al-An’aam, 6: 68)

Ini juga perlu menjadi peringatan kepada kita khususnya kepada kita yang cinta kepada Sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam,yang ingin mendokong sunnah Nabi dan menjauhi perkara-perkara khurafat, bidaah dan sebagainya.

Maka kalau kita sudah tahu bahawa perkara ini dilarang dalam Syarak, perkara ini maksiat, perkara ini bid’ah, bercanggah dengan Sunnah Nabi, maka jangan sama sekali kita ambil mudah lagi. Jangan kita duduk juga dalam majlis tahlilan. Jangan kita masih lagi memberi alasan “aku tak tahlil, aku duduk je”. Untuk apa kamu duduk, adakah untuk mendapat berkat? Hendak ambil hati? Ambil hati siapa? Adakah kita ingin mengambil hati orang-orang bid’ah dan menarik kemurkaan Allah? Adakah kita sanggup buat begitu? Kerana apa yang pasti, Allah memurkai majlis-majlis yang seperti ini, halaqah-halaqah yang seperti ini.

Sekarang ada halaqah-halaqah baru; halaqah Ya Hanana, Ya Banana. Ini apa? Mana ada majlis-majlis seperti ini (dalam Islam). Apa yang pasti majlis-majlis seperti ini bukan majlis zikir, tetapi lebih kepada majlis-majlis nyanyian dan joget yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apakah kita masih lagi mampu merasa aman untuk duduk di dalam majlis-majlis seperti ini? Dikhuatiri tidak semena-mena kita terikut-ikut dengan apa yang dinyanyikan kerana betapa mudahnya kita terkesan dengan persekitaran.

Dukacitanya, manusia tidak mengambil perhatian tentang hal ini. Dia menjaga persekitaran, tetapi persekitaran zahir semata. Kita semua setuju bahawa tidak ada siapa yang hendak duduk dengan pecandu narkobe kerana khuatir nanti kita pun jadi pecandu.

Ini kita faham. Sedangkan mudaratnya tidak lebih daripada mudarat fizikal. Adapun mudarat kepada spiritual, akidah, agama, dan akhlak, kita tidak memberi kepentingan. Sedangkan tentu sahaja mudarat agama jauh lebih bahaya daripada mudarat fizikal seperti bergaul dengan  pecandu narkoba.


  • 6. Berlindung dengan Allah dari Syaitan yang direjam seperti mana dalam surah Al-Fussilat ayat ke-36


,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“

Dan jika engkau dihasut dengan hasutan syaitan maka hendaklah engkau meminta perlindungan Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Surah Al-Fussilat, 41: 36)

TIDAK ADA SOLAT SUNAT TAUBAT


Tidak ada istilah solat sunat taubat, seperti mana tidak ada istilah solat hajat. Kerana apa yang pasti, para sahabat seperti mana dalam kisah Ka’ab bin Malik dan dua rakannya yang tidak menyertai Rasulullah dalam peperangan Tabuk, mereka bertaubat dan apa yang pasti Rasulullah tidak menyuruh mereka melakukan solat sunat taubat.

Taubat itu adalah dengan kita meminta keampunan daripada Allah secara umum. Tidak ada kaedah-kaedah tertentu atau waktu-waktu tertentu yang dikhaskan. Walau bagaimanapun ada waktu-waktu yang mustajab di mana dia boleh mengambil kesempatan dari waktu-waktu mustajab itu untuk bertaubat; seperti ketika sujud, sepertiga malam yang terakhir, hari Jumaat, dan seumpamanya.

TANDA-TANDA TAUBAT DITERIMA


Perlu kita ketahui bahawa taubat tidak cukup hanya dengan melafazkan dan meminta taubat daripada Allah. Sebaliknya, taubat itu dianggap sebagai taubat yang benar apabila disusuli dengan tindakan-tindakan yang perlu diambil bagi menunjukkan seseorang itu benar-benar telah bertaubat.Maka kita lihat, apakah tandanya bahawa taubat seseorang itu diterima;


  • 1.Setelah bertaubat, seseorang hamba itu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. 


Ini tanda yang paling kuat dan jelas. Sesudah bertaubat, keadaan orang itu berubah. Kalau sebelumnya dia melakukan maksiat, setelah taubat dia menjadi orang yang saleh. Kalau sebelumnya dia melakukan bidaah, sekarang dia melakukan perkara sunnah. Kalau sebelumnya dia melakukan perkara khurafat atau kufur dan syirik, sekarang dia mempraktikkan Tauhid dalam ertikata yang sebenarnya.


  • 2. Terus diselubungi rasa takwa dan takut terhadap dosanya dan tidak pernah merasa aman dari siksa Allah walau sekelip mata. 


Jangan timbul perasaan merasa cukup dengan taubat yang dilakukan, atau jangan terlintas dalam fikiran bahawa aku sudah bertaubat maka habis cerita. Seolah-olah taubat itu pasti sudah diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita bertanya, dari mana datang keamanan itu?
Apakah kita pasti bahawa taubat kita telah diterima?
Tidak ada sesiapa yang boleh menjamin dan berkata kepada kita “Ya, taubat engkau telah diterima.” Maka kerana itu, merasa aman dengan taubat yang dilakukan perlu kepada taubat.

Kerana perasaan seperti itu sendiri merupakan satu dosa.


  • 3. Berhenti dan berlepas diri dari dosa yang dilakukan kerana penyesalan dan rasa takut. 


Dia tidak mengulanginya lagi dan menyesal dengan dosa yang dilakukan itu. Dia merasa sedih dengan apa yang telah dilakukan dan berharap dia tidak pernah melakukan dosa itu.


  • 4. Lembut hatinya setelah bertaubat. 


Hatinya merasa lunak dan merasa hampir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

DEFINISI TAUBAT NASUHA


Taubat Nasuha adalah satu istilah bahasa Arab bahkan disebut dalam Al-Quran.

Nasuha berasal dari kalimah yang sama dengan ‘Nasihat’ yang maknanya bersih, jujur lagi benar. Taubat Nasuha bererti taubat yang benar lagi jujur, bukan kerana sebab yang lain tetapi semata-mata kerana hendak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini disebut dalam Surah Al-Tahrim ayat ke-8

,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ“

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat Nasuha (taubat yang benar). Semoga dihapuskan dari kamu dosa-dosa kamu dan kamu dimasukkan ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(Surah Al-Tahrim, 66: 8)

InsyaAllah, moga-moga kita tergolong di dalam golongan yang apabila melakukan dosa mereka bertaubat dan moga-moga taubat kita adalah taubat Nasuha, dan kita meminta daripada Allah semoga Allah menerima taubat kita dan insyaAllah kita tergolong di dalam golongan yang terselamat dari api Neraka di Hari Akhirat kelak dan terus masuk ke dalam Syurga

.وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم